14 November 2011

Studi Kasus : Runtuhnya Nokia


Temaram senja tampak tengah bersemayam diatas kompleks kantor pusat Nokia di kota Helsinki, Finlandia. Butiran salju tipis berjatuhan, menghampiri setiap sudut bangunan. Udara terasa dingin membeku. Di salah satu ruangan, para petinggi Nokia tampak duduk berdiskusi dengan penuh kesenduan. Semilir angin yang dingin membuat suasana ruangan itu terasa kian muram.

Para petinggi itu layak gundah gulana. Hari-hari ini kita tengah menyaksikan drama robohnya kedigdayaan Nokia dalam panggung industri ponsel global. Di banyak negara, pangsa pasar Nokia jatuh bertumbangan. Dalam kategori smartphone – salah satu kategori terpenting – produk Nokia terpelanting, dihantam barisan produk kompetitor.

Dan ini dia fakta yang terasa begitu pahit : dalam tiga tahun terakhir, harga saham Nokia anjlok hingga 80% (delapan puluh persen !!). Ini sama artinya dengan kehancuran. Para pelaku dan pengamat pasar terasa begitu galau dengan masa depan Nokia.

Bagaimana mungkin Nokia yang dulu begitu jaya kini mendadak menjadi pecundang? Diskusikan studi kasus ini dengan kelompok Anda!

Kirimkan hasil diskusi tersebut ke email syahrudi_83@yahoo.co.id, jawaban diskusi paling lambat saya terima hari Minggu, 20 November 2011.

04 October 2011

Indonesia Will Be The Next Economic Superpower


Berikut ini adalah sebuah tulisan yang sangat inspiratif dari Mas Yodhia ;
Bunyi terompet kematian yang menandai robohnya ekonomi negara-negara Eropa sayup-sayup mulai terdengar. Perekonomian negara-negara utama seperti Perancis, Italia, Spanyol dan Yunani sedang dirawat di UGD. Sementara raksasa ekonomi lainnya, Amerika Serikat, telah lama termehek-mehek dalam kegelapan ekonomi yang tanpa ujung.

Sementara di belahan dunia lain, yang dipisahkan oleh samudera Atlantik dan Pasifik, muncul kekuatan ekonomi baru yang terus tumbuh. Belahan dunia lain itu bernama benua Asia. Inilah sebuah benua, dimana kegemilangan masa depan ekonomi dunia tengah diracik dan dibentangkan.

Dan senyampang dengan itu, dengan gagah berani muncul barisan the Next Economic Superpowers : China, India, South Korea, dan tentu saja sebuah negeri indah yang bernama : Indonesia.
Salah satu tanda kebesaran ekonomi sebuah bangsa, selalu dilihat dari size PDB-nya atau produk domestik bruto (atau GDP/Gross Domestic Product). Dalam bahasa kampung, PDB merupakan total output/produksi yang dihasilkan oleh sebuah negara : mulai dari produksi sepatu oleh pengrajin Cibaduyut hingga hasil minyak Pertamina; mulai dari produksi mie tek-tek di pinggir pasar Glodok hingga produksi kelapa sawit di perkebunan maha luas milik Astra Agro Lestari.

Pendeknya, PDB ibarat volume produksi bagi para juragan pabrik. Makin besar, makin bagus. Dan negeri kita, karena jumlah penduduknya yang amat banyak serta area Nusantara yang maha luas (lebih panjang dibanding negara Amerika), termasuk negara dengan PDB yang relatif besar yakni : 6,000 trilyun rupiah (atau berada pada posisi 18 terbesar di dunia).

Nah, angka PDB itu juga yang dijadikan dasar untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Jadi, kalau di koran-koran kita dengar ekonomi Indonesia akan tumbuh 6 %, maka patokannya adalah : angka PDB yang besarnya sudah Rp 6,000 trilyun akan tumbuh 6 % (atau tumbuh sebesar Rp 360 trilyun rupiah). Angka pertumbuhan 6 % tergolong bagus (Eropa dan Amerika hanya bisa tumbuh 1,5%; jadi kita bisa tumbuh 4 kali lipat dibanding mereka !!).

Dengan basis angka PDB yang sudah cukup besar, dan didukung dengan angka pertumbuhan yang meyakinkan (yakni antara 6 – 7%), Indonesia PASTI akan menjadi raksasa ekonomi di masa depan (sayangnya, media massa kita jarang menampilkan hal ini. Justru media internasional yang berkali-kali membahas masa depan gemilang ekonomi Indonesia).

Yang mungkin juga layak dicatat adalah ini : jumlah size PDB yang 6000 triyun itu, mayoritasnya (sekitar 63%) di sumbang oleh konsumsi domestik. Atau oleh belanja konsumen domestik, atau ya oleh kita-kita ini : mulai dari membeli Blackberry Bold 9900 baru di pasar Roxi hingga ambil Vario gres di dealer motor; mulai dari jalan-jalan sambil makang siang di Mall hingga beli baju modis di Bandung.

Konsumen Indonesia memang amat powerful. Itulah kenapa seorang haji yang juga juragan sukses pernah bilang : cari uang di Indonesia itu amat gampang; uang ratusan milyar bercereran di jalan dan di pasar; kita tinggal mengambilnya semudah mengorek upil.

Maksud sang juragan itu jelas : peluang bisnis dan prospek pasar di negeri ini sedemikian menggiurkan, dan inilah kesempatan emas bagi siapa saja untuk menjalankan bisnis (kalau ndak percaya tanya Toyota dan Nestle kenapa mereka mau bikin pabrik baru di Cikarang, masing-masing senilai 2 trilyun). So, just build your own busines, and do it NOW.

Elemen lain yang juga akan membuat Indonesia menjadi superpower ekonomi adalah ini : bonus demografi. Ini istilah yang lazim digunakan untuk menyebut sebuah negara yang punya komposisi penduduk yang produktif. Indonesia termasuk disitu : dari 235 juta penduduk kita, mayoritas berada pada usia produktif (atau antara 17 sd 50 tahun). Dan ini akan memberi efek dahsyat bagi kemajuan ekonomi.

Negara-negara maju, termasuk Jepang, sebaliknya. Mayoritas penduduk mereka berada pada usia lanjut (dan tidak produktif). Sebutannya : negara yang menua, atau an aging nation. Dan ini malapetaka buat ekonomi bangsa. Jepang dan negera maju lainnya, pelan-pelan bisa hancur, sejalan dengan penduduknya yang jompo semua.

Demikianlah beberapa catatan yang layak diperhatikan, kala kita punya impian untuk menjadikan Sang Bumi Nusantara menjadi the Next Economic Superpower.

Negeri ini pernah mengalami kejayaan yang amat impresif, ketika dipimpin oleh seorang perdana menteri bernama Gajah Mada. Kedahsyatan negeri Majapahit yang dipahat 900 tahun silam itu insya Allah akan terulang kembali.

29 August 2011

Perang Inovasi di Era Globalisasi


Hidup barangkali kini terasa makin nyaman, dan untuk itu kita layak memberikan kecupan hangat pada para inovator yang telah mempersembahkan aneka produk inovatif dihadapan kita.
Dulu kita mungkin tak pernah membayangkan betapa kita bisa melayangkan sederet kalimat romantis pada kekasih kita melalui medium SMS. Atau, juga melakukan chatting dengan kawan diseberang samudera melalui fasilitas internet. Karena itu, siapa tahu dua puluh lima tahun lagi kita bisa menikmati mobil terbang, melayang diatas jalanan kota Jakarta sambil menikmati pendaran emas menara Monas?
Ya kini tiap hari rasanya kita senantiasa disuguhi aneka produk yang menawarkan sejumput inovasi demi sebuah kenikmatan hidup. Mulai dari produk kamera digital, mobile banking, media televisi diatas screen telpon genggam, hingga produk celana-dalam-sekali-pakai-kemudian-dibuang.
Kisah inovasi yang ditorehkan dengan tinta emas mungkin akan dinikmati oleh mereka yang memang senantiasa dapat meracik beragam produk baru yang inovatif. Namun bagi sebagian yang lain, perang inovasi ibarat padang kurusetra : tempat dimana mereka terpanah penuh luka, dan akhirnya gugur di medan laga.
Dunia tak kekurangan dengan korban-korban yang terpelanting dalam laga inovasi yang brutal itu. Kita disini mau mencatat tiga contoh diantaranya.
Yang pertama misalnya adalah dalam arena kamera digital. Dulu sebelum kamera digital menjadi sesuatu yang lumrah, kita mengenal produk bernama Kodak sebagai sang dewa. Setiap kali Anda pergi liburan bersama teman atau kerabat, pasti kotak film bermerk Kodak itu nyangkut di tas Anda.
Namun perkembangan teknologi kamera digital telah menghempaskan mereka dalam puing sejarah yang usang. Kodak tidak cepat merespon perubahan yang mematikan ini, dan kini mereka tinggal menunggu peti mati untuk beranjak tidur selamanya.
Contoh kedua adalah telpon rumah. Dulu bisnis ini menjadi sumber mesin uang bagi Telkom, sang penguasanya. Namun kini ketika handphone telah ada dimana-mana, frekuensi penggunaan telpon menurun drastis (di rumah pun banyak orang yang kini lebih memilih memakai handphone daripada telpon rumah yang jadul itu).
Dan itulah yang terjadi : penurunan pendapatan Telkom dari bisnis telpon rumah lebih cepat daripada yang mereka prediksi. Bisnis telpon rumah kemudian menjelma menjadi bisnis yang stagnan, dan bagian dari sejarah masa silam.
Contoh yang lainnya adalah perang inovasi di bisnis sepeda motor. Dulu, produsen motor Suzuki selalu menempel ketat sang penguasa pasar, Honda, bersama rival terdekatnya yakni Yamaha. Namun ketika Yamaha menggebrak dengan produk inovatif bernama skutik Mio, sponsor Valentino Rossi ini terbang melesat bersama Honda – yang terus terengah-engah menahan nafas agar tak tersalip.
Yang kemudian tertinggal dalam sembilu kepedihan adalah Suzuki. Gebrakan inovasi Yamaha, yang segera kemudian disusul oleh Honda, telah membuat Suzuki terpelanting dan terkaing-kaing. Kita sekarang menyaksikan banyak dealer motor Suzuki yang tutup, dan pangsa pasar mereka terus menurun. Kita tidak tahu sampai kapan Suzuki akan terus mengalami penderitaan yang menyakitkan ini.
Tiga kasus diatas telah menyodorkan eksemplar yang begitu jelas : tanpa spirit inovasi, sebuah produsen bisa tergolek kehilangan raga. Proses ini mungkin menjadi kian dramatis dalam bisnis yang melibatkan teknologi yang bergerak dengan cepat (seperti tiga kasus diatas).
Ketajaman mengendus tren pasar, tim pengembangan produk (product development) yang unggul serta budaya inovasi yang mengakar, adalah sejumlah elemen dasar yang perlu dibentangkan jika sebuah organisasi ingin terus bisa bertahan dalam laga inovasi yang terus berjalan tanpa henti.
Tanpa bekal itu semua, sebuah organisasi bisa terjebak dan sekarat. Bagi mereka, perang inovasi bisa menjelma menjadi drama yang menyakitkan, dan membuat mereka terkubur lenyap dalam kesunyian.

19 July 2011

10 Perusahaan Terbesar di Indonesia



Dunia usaha atau bisnis selalu merupakan elemen penting dalam menghela pedati kesejahteraan sebuah negeri. Sebab dari dunia bisnis-lah, bentangan investasi ekonomi dijelujurkan, roda perdagangan dilicinkan, dan kemudian, jutaan lapangan kerja diracik dan diwujudkan. Dan dari situlah, tembang kemakmuran mungkin bisa pelan-pelan di-dendangkan.

Itulah kenapa, sungguh penting berupaya agar barisan perusahaan di tanah air terus bergerak maju, dan makin membesar. Lalu : perusahaan apa saja yang kira-kira bisa terus tumbuh dan bergerak to the next level? Daftar perusahaan mana yang layak dikukuhkan sebagai yang terbesar di tanah air?

Berikut adalah daftar ranking 10 perusahaan TERBESAR di tanah air. Kriteria terbesar merujuk pada jumlah penjualan total pertahun (data berdasar annual sales revenue pada tahun 2010).
1. Astra International - total sales revenue = Rp 130 trilyun
2. Telkom = Rp 68 trilyun
3. Bank Rakyat Indonesia = Rp 50 trilyun
4. HM Sampoerna = Rp 43,5 trilyun
5. Bank Mandiri = Rp 43 trilyun
6. Bumi Resources = Rp 39 trilyun
7. Indofood Sukses Makmur = Rp 38 trilyun
8. Gudang Garam = Rp 37,5 trilyun
9. United Tractors = Rp 37 trilyun
10. Bank Central Asia = Rp 28 trilyun
Ada empat catatan ringkas yang mau di-dedahkan berkaitan dengan peringkat diatas. Yang pertama, Astra International untuk kesekian kalinya menjadi perusahaan yang terbesar di tanah air, nyaris dua kali lipat dibanding Telkom (urutan kedua).
Dominasi Astra dalam industri otomotif dan sepeda motor (melalui beragam merk seperti Toyota, Daihatsu, dan Honda) membuat mereka terus bergerak maju sejalan dengan laju penjualan mobil plus sepeda motor yang kian meningkat.
Catatan kedua : daftar 10 perusahaan diatas cukup mewakili industri yang beragam, mulai dari sektor perbankan (Mandiri, BRI dan BCA), sektor pertambangan (Bumi Resources dan United Tractors) dan sektor consumer goods (Indofood, Sampoerna dan Gudang Garam) plus sektor telco (Telkom). Industri perbankan dan pertambangan memang selama 5 tahun terakhir terus menjadi primadona dalam lansekap ekonomi tanah air.
Catatan yang ketiga, agak memilukan juga ternyata dua raksasa rokok ada dalam peringkat top ten diatas, yakni Sampoerna dengan penjualan 43,5 trilyun dan Gudang Garam = 37,5 trilyun. Ini artinya uang sebesar 81 trilyun tiap tahun dibakar habis dalam hembusan asap yang mematikan.
Bayangkan. Uang 81 trilyun lenyap dibakar sia-sia setiap tahun !! Berapa juta anak miskin yang bisa sekolah dengan uang sebesar itu?
Catatan keempat : daftar diatas hanya mencakup perusahaan yang sudah go public. Ini artinya ada sejumlah BUMN besar yang belum go public yang tidak masuk daftar diatas. Ada dua BUMN besar yakni Pertamina dan PLN yang akan berada pada urutan 1 dan 2 jika disertakan. Penjualan total Pertamina dalam setahun sekitar Rp 420 trilyun, sementara PLN mendapatkan omzet penjualan sekitar Rp 162 trilyun.
Demikianlah daftar peringkat perusahaan terbesar di Indonesia. Kita berharap semua perusahaan diatas (kecuali perusahaan milik tauke rokok) terus bisa tumbuh dan berkembang, sejalan dengan laju kemakmuran bangsa. BRI punya cita-cita menembus pendapatan hingga 100 trilyun dan menjadi salah satu top bank di kawasan Asia. Mudah-mudahan bisa tercapai. Demikian juga dengan Bank Mandiri.
Kalau saja makin banyak perusahaan Indonesia yang bisa menembus omzet penjualan diatas 100 trilyun (seperti Astra), maka tentu ini akan membawa kabar baik bagi dunia bisnis di tanah air.

Sumber : Berbagai Sumber

19 January 2011

Transformasi Telkom Menuju Single Provider


Setelah 153 tahun beroperasi, Telkom melakukan transformasi terbesar dalam sejarah dengan mengubah bisnisnya. Inilah proses perubahannya dari separate providers menuju single provider.
Perayaan ulang tahun PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) ke-153 sangat istimewa. Bertempat di Djakarta Theatre, tepat pada hari jadinya, 23 Oktober lalu, diluncurkan “New Telkom”. Peluncuran itu untuk mengukuhkan transformasi bisnis BUMN ini dari semula infokom menjadi telecommunication info media & edutainment (TIME). Saat itu juga diumumkan logo dan identitas korporat baru yang menelan dana Rp 3,2 miliar.
Perubahan logo lama menjadi baru bersifat total, mulai dari warna, huruf hingga lambang. Tampilannya lebih modern: berlatar belakang warna putih, lingkaran biru dan telapak tangan dengan lima jari berwarna oranye menyatu. Jargon anyar yang diusung adalah “The World in Your Hand”. Bandingkan dengan logo lama yang bergambar gradasi lingkaran warna biru dengan slogan citra “Commited to You”.
“Hadirnya portofolio bisnis baru ini sejalan dengan positioning baru Telkom, yakni Life Confident dengan tagline ‘The World in Your Hand’. Telkom beralih dari separate providers menuju single provider,” ungkap Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama Telkom.
Rinaldi menjelaskan, transformasi kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah Telkom, karena bersifat fundamental, menyeluruh dan terintegrasi yang menyentuh empat aspek dasar perusahaan. Yaitu, transformasi bisnis, infrastruktur, sistem dan model operasi, serta transformasi sumber daya manusia (SDM).
Guna mendukung transformasi total, Telkom menetapkan 10 Strategic Initiative yang mengacu pada strategi defense the legacy and grow the new wave serta strategic objectives. Meskipun begitu, yang jelas, peta bisnis Telkom kini secara garis besar dibedakan menjadi dua: legacy dan new wave melalui TIME.
Untuk strategi defense the legacy, Telkom tetap mempertahankan bisnis tradisional. Caranya, mengoptimalkan jaringan saluran tetap kabel (fixed wireline), melakukan penyelarasan terhadap layanan seluler dan fixed wireless access (FWA), memisahkan FWA sebagai unit bisnis tersendiri, serta merampingkan portofolio anak usaha (streamline subsidiary portfolio).
Sementara itu, untuk grow the new wave dan strategic objectives, “Kami harap dengan fokus berbasis TIME, Telkom akan menguasai 60% pendapatan dari industri new wave pada 2014,” ujar Rinaldi tandas. New wave adalah bisnis baru di industri teknologi komunikasi informasi yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi, tetapi beralih ke konten, portal, media dan solusi teknologi informasi. Infrastruktur telekomunikasi hanya dijadikan sebagai tulang punggung. Saat ini, bisnis new wave berkontribusi sekitar 10% bagi total pendapatan Telkom. Sumber kontribusinya berasal dari anak usaha seperti Sigma Cipta Caraka dan Indonusa. Adapun sumbangan revenue terbesar dari sektor telekomunikasi, yaitu 90%.
Transformasi yang dilakukan Telkom tidak stagnan di satu periode. Eddy Kurnia, VP Komunikasi Publik dan Pemasaran Telkom, menjelaskan transformasi ini merupakan proses yang berkelanjutan, karena perusahaan terus berubah.
Fase pertama transformasi Telkom dilakukan saat dipimpin Cacuk Sudarjanto (1988-92) dan Setyanto P. Santosa (1992-97). Di bawah komando Cacuk (almarhum), Telkom menjalankan fundamental change: Basic Culture Transformation. Adapun waktu dipimpin Setyanto, Telkom go public dan sahamnya terdaftar di beberapa bursa (Bursa Efek Jakarta, Bursa Efek Surabaya, New York Stock Exchange dan London Stock Exchange), merestrukturisasi 12 wilayah telekomunikasi (witel) menjadi 7 divisi regional (Divre), serta menyelesaikan kerja sama operasi (KSO) di 5 divre.
Transformasi fase ke-2 dilakukan kala Kristiono (2002-05) dan Rinaldi Firmansyah (2005-sekarang) menjadi nakhoda. Tahun 2002, Telkom memasuki lingkungan bisnis baru yang kompetitif. Akibatnya, transformasi pada masa itu diarahkan dari asset-based company menjadi customer-centric company dan bertransformasi dari perusahaan telekomunikasi menjadi perusahaan infokom.
Di bawah kepemimpinan Rinaldi, Telkom memasuki era baru, berubah dari perusahaan infokom menjadi TIME. Sebuah era di mana Telkom memasuki dan menumbuhkan bisnis new wave, sambil tetap mengoptimalkan bisnis tradisional berbasis legacy yang masih menguntungkan.
Selanjutnya, langkah apa saja yang ditempuh Telkom untuk melakukan transformasi fundamental dan menyeluruh?
Transformasi bisnis Telkom merupakan sesuatu yang tak dapat dihindari. Beberapa hal menjadi pemicunya. Simak saja, saat ini tengah terjadi berbagai perubahan mendasar, mulai dari lingkungan bisnis (kompetisi dan regulasi), teknologi hingga gaya hidup. Jadi, perubahan bersifat mutlak guna menjawab tantangan lingkungan bisnis yang baru. “Perubahan fundamental ini tak terelakkan mengingat layanan wireline yang berbasis PSTN (public switch telephone network) sedang menghadapi fase menurun, seiring berubahnya gaya hidup masyarakat, karenanya perlu direvitalisasi. Perubahan ini untuk menjaga pertumbuhan kompetitif Telkom secara bersinambung,” ujar Rinaldi menguraikan.
Transformasi infrastruktur dilakukan sesuai dengan kebutuhan bisnis Telkom dengan parameter efisiensi dari infrastuktur yang digunakan. Efisiensi pada infrastuktur berpatokan pada jenis broadband technology.
Lalu, transformasi sistem dan bisnis model bertujuan meluaskan jangkauan pasar Telkom. Itu menyangkut sistem prosedural dan sistem produksi yang dikembangkannya.
Transformasi SDM basisnya pengembangan kompetensi, yang dilakukan melalui berbagai pelatihan demi mendukung perubahan teknologi dan bisnis. Melalui pusat pelatihan di Gegerkalong, Bandung, plus beberapa kampus di 7 kota besar Indonesia, sampai kini 9.000 orang sudah dilatih untuk bisa mengembangkan bisnis TIME.
Untuk perampingan SDM, Telkom menawarkan program pensiun dini tiap tahun sampai jumlahnya ideal, 16-17 ribu orang. Hingga sekarang jumlah karyawan tetap Telkom 23 ribu orang dan bila dijumlah dengan anak usaha, total sekitar 31 ribu pegawai.
Walaupun begitu, Telkom masih melakukan rekrutmen. Grup ini terbuka untuk memperkaya SDM-nya dalam jumlah tertentu demi pengembangan TIME dan bisnis anorganik lewat akuisisi perusahaan-perusahaan yang sehat dan sejalan dengan portofolio bisnisnya. “Kami bukan sekadar akuisisi perusahaan, tapi juga termasuk orang-orangnya,” Eddy menuturkan.
Dengan tranformasi total, Telkom optimistis bakal menjadi satu-satunya pelaku bisnis TIME terbesar dan terdepan di Indonesia. Rinaldi mengatakan, untuk penjabaran bisnis TIME, Telkom akan menciptakan bisnis telekomunikasi yang lebih atraktif. Contohnya, bisnis telepon kabel dipersiapkan sekaligus menjadi vehicle untuk broadband access Speedy. “Kalau pelanggan berlangganan Speedy, harus kami ketahui juga telepon rumahnya untuk menjadi saluran layanan tersebut,” ujarnya. Untuk akses data dan komunikasi, Telkom mempunyai TelkomselFlash dan Flexinet untuk produk CDMA-nya.
Sementara bisnis informasi akan digarap Telkom lewat IT Services Business melalui anak usaha: Metra dan Finnet. Keduanya untuk melayani financial network bagi pelanggan korporat. Guna mendukung portofolio bisnis ini, akhir 2008 Telkom mengakuisisi PT Sigma Cipta Caraka dengan kepemilikan saham 80%. Pertengahan tahun ini, melalui Metra, Telkom mengakuisisi PT Infomedia Nusantara dari Elnusa, sehingga saat ini saham yang dimiliki 100%. Tujuan pengambilalihan ini adalah untuk melengkapi layanan komunikasi bidang contact center dan call center.
Perubahan dalam perkembangan bisnis media pun ditanggapi sigap oleh Telkom. Salah satunya dengan pembenahan bisnis e-commerce. Ini ditandai dengan diluncurkan versi terbaru Plasa.com dengan nama Mojopia. Mojopia merupakan perusahaan yang berfokus pada penyediaan portal e-commerce dan agregasi konten yang layanan dasarnya meliputi e-commerce, konten dan komunikasi.
“Biaya investasi untuk merevitalisasi bisnis media US$ 2 juta,” ujar Rinaldi sambil menyebutkan, perubahan Plasa.com menjadi Mojopia disiapkan sejak 1,5 tahun lalu. Biaya yang sangat besar tentu bukan asal keluar uang saja. Namun, Telkom yakin bahwa di sinilah bisnis new wave dimulai. Dia menargetkan 1 juta barang dan 1.000 merchant bisa dikelola pada 2010. “Jangan bicara balik modal dulu, karena target Mojopia bisa berhasil seperti Amazon.com. Setidaknya tiga tahun setelah peluncuran ini, Mojopia akan membesar,” imbuhnya saat ditanya kapan investasinya balik modal.
Agar target bisnis media tercapai, bukan hanya bisnis Telkom yang direvitalisasi, tetapi juga orang-orang di dalamnya. Tidak bisa dimungkiri, Mojopia bisa makin besar dengan dukungan SDM yang andal, hasil sinergi dari orang Telkom, Telkomsel dan bahkan orang di luar grup ini. Sebut saja, Shinta W. Dhanuwardoyo, yang kini menjabat CEO Mojopia (pendiri dan mantan CEO Bubu.com) dan Andi S. Boediman, Chief Innovation Officer Mojopia (pendiri Digital Studio). Bagi Andi, bergabungnya dia dengan Telkom lantaran ini kesempatan baru. “Melalui Mojopia,” katanya, “kami membangun platform bagi entrepreneur.”
Telkom juga membangun bisnis edutainment. Kendaraan bisnis tersebut adalah televisi berbayar yang produknya dikenal dengan Telkom Vision. Pada saatnya kelak, bisnis ini menjadi konten agregator untuk IP TV. “Rencananya IP TV akan diluncurkan pada triwulan I/2010,” ucap Eddy. IP TV adalah TV interaktif, seperti adanya video on demand, yang semuanya dikendalikan pelanggan. Rencananya juga bakal dilengkapi dengan view TV melalui broadband Speedy.
Betul, kini kontribusi bisnis new wave (TIME) masih kecil dibandingkan legacy. Akan tetapi, potensi pasarnya masih besar lantaran pertumbuhannya saja mencapai 51%. Telkom melihat new wave merupakan bisnis masa depan. Diharapkan pada 3-4 tahun ke depan, kontribusi bisnis new wave berangsur-angsur akan meningkat menjadi 25%-30%. Dan pada 2014 kontribusinya ditargetkan 60%, sehingga menjadi tulang punggung baru bagi Telkom. Nah, guna membangun bisnis new wave, perlu infrastrukstur yang mumpuni sebagai penopang. Itulah sebabnya, Telkom tiap tahun menggelontorkan belanja modal rata-rata Rp 21 triliun. Anggaran 2010 kurang-lebih Rp 20 triliun. Keseriusan itu dibuktikan dengan sejumlah proyek pendukung. Misalnya, membangun backbone plus optik yang terintegrasi di kawasan Indonesia Timur dan infrastruktur berbasis Internet Protocol yang terangkai mulai dari Nusa Tenggara (Mataram-Kupang), Sumatera, Jawa, sebagian Kalimantan, sampai Sulawesi sehingga menunjang infrastruktur Next Generation Network.
Telkom juga menerapkan budaya kerja baru. Ini terkait dengan indentitas korporat dan positioning baru: Life Confident. Ada lima budaya atau nilai-nilai anyar yang kini diinternalisasi Telkom kepada seluruh pegawai, yaitu Expertise (keahlian), dengan simbol lingkaran menunjukkan kelengkapan produk dan layanan dalam portofolio bisnis baru Telkom; Empowering (pemberdayaan), disimbolkan dengan tangan yang meraih keluar, mencerminkan pertumbuhan dan ekspansi keluar; Assured (jaminan), dilambangkan dengan jemari tangan, merefleksikan kecermatan, perhatian, serta kepercayaan dan hubungan yang erat; Progressive (kemajuan), digambarkan dengan kombinasi tangan dan lingkaran seperti matahari terbit yang bermakna perubahan dan awal yang baru; dan Heart (hati kehidupan), diwujudkan dengan gambar telapak tangan yang mencerminkan kehidupan untuk menggapai masa depan.
Dari serangkaian langkah transformasi yang dijalankan Telkom, tampak bahwa BUMN ini sudah siap lepas landas menjadi pemain terdepan bisnis TIME di Tanah Air. Pakar branding Daniel Surya menilai, ”Di satu sisi Telkom sadar akan perubahan besar. Di sisi lain, publik khawatir Telkom tidak akan bisa menghadapi tantangan tersebut. Tapi, Telkom justru cepat menjawabnya dengan perubahan total ini. Tidak menutup kemungkinan kelak Telkom akan menjadi pemain global yang besar.”
Country Managing Director The Brand Union wilayah Indonesia dan Brunei Darussalam yang juga konsultan perubahan logo Telkom itu mengakui bahwa proses branding Telkom yang digarapnya paling ideal. Bukan dari segi biayanya, melainkan prosesnya: perubahan ini dilakukan sejak kepemimpinan Cacuk. Proses perubahan logo ini memerlukan waktu 8-9 bulan. Dan proses itu belum selesai, sebab The Brand Union juga membantu internal brand engagement, untuk menerjemahkan brand value yang baru kepada karyawan. Ini dilakukan bertahap mulai dari level atas hingga bawah yang memakan waktu 6 bulan.
Namun, bagi Steve Sudjatmiko, ada beberapa hal yang harus diperhatikan Telkom dalam perubahan ini. “Meski sudah mengeluarkan investasi besar, transformasi Telkom bukan berarti tanpa risiko. Apakah Telkom bisa meyakinkan bahwa pasar yang dituju akan segera menjual?” kata pendiri dan konsultan manajemen Red Pyramid itu. Dengan kata lain, ketika Telkom sudah mulai berinvestasi kapabilitas ke arah baru, tetapi ternyata pasar yang mereka harapkan tidak segera terjadi, maka kapabilitas itu akan kedaluwarsa. “Saya khawatir, Telkom ‘pindahnya’ terlalu pagi, sehingga investasi kapabilitas yang sudah mereka lakukan jadi sia-sia,” ujar Steve. Sebaliknya, bila arah Telkom benar, menurut dia, Telkom akan melangkah lebih cepat dengan kapabilitas yang telah mereka bangun sejak sekarang. Telkom juga memiliki kekuatan untuk merekrut orang-orang terbaik di Indonesia, bahkan dunia, untuk membangun bisnis baru ini.
Yang pasti, menurut Steve, kekuatan dalam proses perubahan adalah visinya. Jadi, jika visi salah, arah perubahan pun bakal melenceng. Dan dia memandang, Telkom sudah bagus visinya karena menjadi pemain nomor satu bisnis telekomunikasi, tetapi ingin terus berubah, keluar dari comfort zone. Pada situasi ini, perubahan yang dituntut bukanlah perubahan yang biasa, melainkan yang luar biasa.
Orang Inggris bilang, “If you don’t know where you’re going, then for sure you won’t get there.” Telkom sudah mematok ke mana ia akan bergerak. Sekarang eksekusi yang cermat menjadi kunci suksesnya. ***